24 January 2018

Gion Matsuri: Festival yang Disebabkan Wabah Penyakit

Yamaboko Junko (di latar belakang)

Halo kawan-kawan! Ketika mendengar tentang festival hal apa yang pertama kali muncul dalam benak kalian? Karnival megah di Brazil? Festival lempar tomat di Spanyol? Ya, keduanya memang festival yang terkenal di dunia. Eh, tapi Jepang juga gak kalah kok. Ada banyak sekali festival di Jepang tiap tahunnya yang tersebar di berbagai daerah di Jepang.Bahkan bisa dibilang Jepang adalah salah satu negara dengan jumlah festival terbanyak di dunia! Nah, pada postingan kali ini mari kita mencari tahu salah satu festival terbesar di Jepang Gion Matsuri. Let's go!!

Yamaboko Junko ditarik puluhan orang
Jadi, Gion Matsuri ini diadakan di Kyoto nih, kawan. Secara teknis festival ini berlangsung selama 1 bulan full pada Juli dimana banyak kedai-kedai yang berjualan barang-barang atau makanan-makanan khas Gion Matsuri ini. Namun hal yang paling meriah dari festival, atau yang dalam bahasa Jepang disebut matsuri ini ialah parade besar-besaran seraya menarik Yama dan Hoko (keduanya semacam gerobak raksaksa yang dihiasi dengan meriah) atau dalam sebutan secara gabungannya ialah Yamaboko Junko. Yama dan Hoko ini tidak hanya 1 atau 2 loh kawan tapi terdiri dari 9 gerobak Yama dan 23 gerobak Hoko dengan masing-masingnya ditarik sekitar 3-4 lusinan orang!! Waaooww!!!

Banyak banget yang datang ya!
Festival yang telah diadakan 1000 tahun yang lalu ini berawal dari bencana wabah penyakit yang menyebar di Jepang kala itu. Banyak masyarakat yang menderita karena ini. Akhirnya kaisar masa itu memperintahkan rakyatnya untuk terus berdoa kepada dewa. Tombak-tombak kerajaan yang dihiasi juga ditancapkan disekitar kuil sebagai bentuk permohonan. Hal ini terus dilakukan kapanpun ada wabah penyakit melanda Jepang. Seiring berjalannya waktu kegiatan ini dilakukan tiap tahun dan akhirnya menjadi festival Jepang. Wah, ada-ada saja ya.. 
Karena sejarah menarik inilah banyak turis asing yang juga datang berkunjung Kyoto untuk melihat uniknya festival tersebut.

Sekian deh postingan kali ini hehe. Semoga kita dapat pergi kesana ya jika ada kesempatan. Bakal mantap tuh hahaha. Oke deh sampai jumpa!

23 January 2018

Mari Mengenal Upacara Teh Jepang!

Peralatan Chanoyu

Halo kawan - kawan! Ngomong-ngomong kalian suka meminum teh? Jika suka, mungkin kalian bisa mempraktekkan kegiatan yang bakal dijelaskan nih. Jadi seperti di Inggris, Jepang juga punya budaya meminum teh yang sudah sudah mengakar sejak zaman dahulu. Bahkan saking kentalnya kebudayaan ini, ada upacara yang khusus berfokus pada meminum teh loh, namanya adalah Chanoyu.

Kata chanoyu sendiri itu berarti air panas untuk teh. Tapi kok bisa kata tersebut diasosiasikan dengan upacara minum teh? Jadi budaya meminum teh Jepang ini muncul seraya dengan masuknya agama Buddha di Jepang. Ajaran agama Buddha saat itu mengajarkan meditasi sebagai bentuk keseimbangan jiwa dan ketenangan hati ini tercermin dalam Chanoyu. Karena peserta upacara dalam Chanoyu diharapkan untuk tenang serta bersikap anggun bagi peserta wanita. Hmm... menarik ya, kawan.

Prosesi Chanoyu pada zaman dulu
Jadi seperti apa sih Chanoyu itu? Chanoyu diadakan untuk menyambut tamu spesial atau memang sekedar mengadakan pertemuan biasa. Namun zaman sekarang, sudah banyak jasa menyediakan Upacara Chanoyu di Jepang bagi orang-orang yang ingin merasakan sensasi upacara tersebut. Dalam upacara ini, teh disiapkan oleh seorang ahli khusus dan disajikan untuk sekelompok kecil orang dengan tata cara tertentu. Dibutuhkan pengetahuan mendalam tentang tipe teh, kimono, kaligrafi Jepang, ikebana dan berbagai pengetahuan tradisional lain untuk mendekorasi chasitsu (ruangan chanoyu) serta menjadi seorang ahli Chanoyu. Kemudian bagi orang-orang yang ingin menjadi peserta dalam Chanoyu pun juga dianjurkan memiliki pengetahuan etika yang berlaku dalam upacara ini. 

Pelaksanaan Chanoyu
Prosesinya sendiri seperti apa? Nah mungkin bagian ini yang paling kalian tunggu-tunggu. Pada Chanoyu ini pelaksaan upacara diadakan dengan duduk bersimpuh, loh. Pertama-tama para tamu masuk kedalam chasitsu untuk makan makanan manis yang dibungkus kertas khusus. Sehabis makan, Ahli Chanoyu menyiapkan teh untuk diminum bersama. Ketika teh sudah siap, teh dituang kedalam mangkuk teh dan disajikan ke tamu pertama. Tamu pertama pun meminum sedikit teh tersebut dan dilanjutkan ke tamu kedua. Prosesi tersebut terus berlangsung sampai tiba giliran tamu terakhir untuk meminum tehnya. Nah jangan salah kawan, teh dalam Chanoyu ini pahit sekali. Sehingga dalam berlangsungnya upacara juga disediakan makanan kecil manis untuk menetralkan rasa pahit tersebut. Jangan lupa, disela-sela prosesi minum para tamu dianjurkan untuk mengagumi mangkuk teh yang digunakan karena biasanya mangkuk-mangkuk tersebut dibuat langsung oleh seorang Ahli Chanoyunya.

Sekian deh dari artikel kali ini. Semoga menambah pengetahuan kalian dan sampai jumpa!

Sumber:
https://www.nippon.com/en/features/jg00079/
https://matcha-tea.com/matcha/the-secret-meaning-of-traditional-japanese-tea-ceremony#



07 January 2018

Kekkon Shiki: Simbolisme Puncak Kasih Sayang


Berlangsungnya prosesi pernikahan


Halo kawan-kawan! Pernahkah kalian merasa mencintai dan dicintai seseorang? Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial tentu kita pernah merasakan hal seperti ini setidaknya terhadap keluarga kita sendiri. Tapi pernahkah kalian merasakan hal seperti ini terhadap pasangan? Kita semua tahu bahwa mencintai dan dicintai pasangan merupakan salah satu perasaan terindah yang pernah ada. Tak jarang mereka yang berpasangan akan melanjutkan hubungan itu ke jenjang yang lebih serius dengan pernikahan. Oh iya bagi yang belum punya pasangan tolong jangan baper ya, hahaha. Oke, kalian ingin tahu seperti apa sih upacara pernikahan di Jepang? Yuk, check this out!


Jangan malu-malu sama mertua, ya!
Dalam hal kerohanian, Jepang merupakan negara yang unik. Banyak dari masyarakat Jepang yang tidak spesifik memiliki satu agama saja. Hal ini juga mempengaruhi upacara pernikahan di Jepang, yaitu secara shinto atau kristen. Namun bahasan kali ini hanya mencakup upacara pernikahan secara shinto saja ya karena secara kristen umumnya sama saja hal nya dengan yang di Eropa. Jadi upacara pernikahan secara shinto ini sifatnya sangat pribadi, kawan. Upacara ini hanya dihadiri oleh keluarga serta kerabat dekat dan diadakan di kuil shinto (jinja) yang dipimpin oleh pendeta shinto (kannushi)


Ngeliatinnya serius amat, pak
Nah, ada satu hal yang menarik dan unik nih dalam pernikahan secara shinto ini, yaitu ritual san san kudo. Apa tuh? San san kudo merupakan ritual dimana mempelai pria dan wanita secara bergantian menyesap sake sebanyak 9 kali dengan menggunakan 3 cangkir yang berbeda dimana dalam 1 cangkir menyesap sebanyak 3 kali. Kemudian mempelai pria dan wanita mengucap janji pernikahan. Setelah itu, anggota keluarga dan kerabat dekat dari kedua mempelai saling bergantian minum sake yang menandakan persatuan atau ikatan melalui pernikahan. Upacara pernikahan ditutup dengan mengeluarkan sesaji berupa ranting sasaki yang ditujukan kepada dewa shinto dan kedua mempelai pun resmi menjadi sepasang suami istri.

Sekian deh dari upacara ini. Hmm.. mungkin sepertinya prosesi upacara pernikahan ini singkat dan sederhana ya tapi dalam pelaksanaannya benar-benar khidmat loh, kawan. Baiklah, sampai disini dulu ya pembahasan pada hari ini. Kita akan berjumpa lagi pada kesempatan berikutnya. Sampai jumpa!

Sumber:

https://www.theknot.com/content/japanese-wedding-traditions
http://japanology.org/2017/01/elements-of-a-traditional-japanese-wedding/

29 December 2017

Shichi Go San: Tradisi Ribuan Tahun

Perayaan Shichi Go San


Semoga sukses kedepan ya, dik!
Halo kawan – kawan! Ketika mendengar “Jepang”, hal apa yang pertama kali masuk kedalam benak kalian? Negara berteknologi tinggi, rumah dari anime dan manga atau kaya akan kebudayaan adalah hal – hal yang umum dikaitkan dengan Jepang. Nah, Sebagai negara yang kaya akan kebudayaan, ada banyak sekali upacara – upacara tradisional di Jepang loh. Jika sebelumnya saya membahas upacara kedewasaan, sekarang saya akan membahas upacara yang berkaitan dengan anak – anak, yang bernama Upacara Shichi Go San.

Pada zaman heian (794-1192) dahulu, anak – anak sangat rentan terhadap penyakit dan kematian bayi merupakan masalah serius. Oleh karena itu, perayaan terhadap seorang anak yang berhasil menyentuh usia 3 dan 7 tahun untuk perempuan serta 3 dan 5 tahun untuk laki-laki menjadi sebuah tradisi hingga masa kini. Dengan rasa syukur, para orang tua Jepang dahulu menjalankan upacara ini dengan khidmat. Itulah mengapa upacara ini bernama “Shichi Go San” yang berarti Tujuh Lima Tiga”.

Permen chitoseame, yummy!!
Jadi seperti apa sih upacara ini pada zaman modern? Upacara Shichi Go San ini tetap diadakan untuk merayakan pertumbuhan anak dan meminta kepada dewa agar hidup mereka terus diberkahi sepanjang masa. Anak-anak peserta upacara ini diwajibkan mengenakan kimono. Acara yang diadakan di kuil shinto ini juga dihadiri orang tua dari anak – anak tersebut dan tentunya pendeta shinto yang mengadakan upacara. Nah, setelah upacara berakhir anak-anak peserta upacara akan diberikan permen chitoseame (secara harfiah: permen seribu tahun) sebagai penanda panjang umur dan diberkati selalu. Jadi jika kalian punya adik berusia demikian bisa diikutsertakan ke upacara ini nih, asalkan kalian tinggal di Jepang ya, hahaha.

Baiklah, sampai disini dulu ya pembahasan pada hari ini, kawan – kawan. Kita akan berjumpa lagi pada kesempatan berikutnya. Sampai jumpa! 

Sumber :
http://web-japan.org/kidsweb/explore/calendar/november/shichigosan.html
https://www.nippon.com/en/features/jg00043/

23 December 2017

Intip Yuk Apa Itu Seijin Shiki!


Halo kawan – kawan! Apa diantara kalian ada yang sudah berumur 20 tahun? Atau mungkin 17 tahun? Kita semua pasti tahu kalau di Indonesia pada usia 17 tahun kita sudah dianggap dewasa secara hukum seperti diperbolehkan secara legal membuat KTP, SIM, maupun menikah. Ternyata kalau di Jepang itu berbeda loh. Negara Jepang menganggap 20 tahun sebagai usia kedewasaan. Di Jepang, usia 20 tahun adalah batas usia remaja dianggap dewasa. Ketika berusia 20 tahun, remaja Jepang diperbolehkan minum sake, mempunyai SIM, merokok, dan diberikan hak memilih dalam pemilihan umum. Wah, lebih tua 2 tahun ya disana!

Wah, cantik – cantik ya!
Berbeda dengan di Indonesia yang hanya ditandai dengan ulang tahun ke-17 atau sering disebut “sweet seventeen“, di Jepang ditandai dengan mengadakan upacara kedewasaan (Seijin shiki/ 成人式) secara nasional, loh. Semua orang dewasa muda yang telah berumur 20 tahun serta berstatus penduduk akan diundang untuk menghadiri upacara oleh pemerintah setempat. Acara yang dilaksanakan pada hari senin minggu kedua ini biasanya diadakan di gedung pertemuan, ballroom hotel, atau dibalai kota setempat. Sudah terorganisir sekali ya!

Meskipun gondrong, tapi mereka tetap ganteng kok!
Nah, mereka melakukan apa saja sih saat upacara berlangsung? Para wanita yang menjadi peserta Seijin Shiki diwajibkan menggunakan kimono, sedangkan bagi para laki-laki diwajibkan untuk menggunakan pakaian formal seperti kemeja beserta jas atau montsuki yang lengkap dengan haori dan hakama. Dihari itu para peserta upacara akan diberi bimbingan dan nasehat oleh walikota atau kepala daerah setempat untuk membekali para peserta agar siap menjadi dewasa seutuhnya dan masuk ke dalam tatanan masyarakat yang sesungguhnya. Di tengah acara juga akan ada prosesi para peserta minum sake (minuman beralkohol) untuk pertama kali secara legal. Tapi ini tidak banyak kok. Masa selagi upacara berlangsung ada yang mabuk? Hahaha. 

Baiklah, sampai disini dulu ya pembahasan pada hari ini, kawan – kawan. Kita akan berjumpa lagi pada kesempatan berikutnya. Sampai jumpa!

Sumber :
Matkul pertemuan ke-7 Images of Japan (Customs and Rituals), semester 1, Binus University